Sabtu, 19 Juli 2008

TUJUH KALI REINKARNASI

Mulai dari ketidaksengajaan, sampai menjadi kebiasaan. Setahun lebih lalu aku dan kamu saling tahu. Berbagi kata-kata, lalu bertemu muka. Itu hal yang biasa. Hingga setelah pertemuan kedua mulai ada rasa. Entah rasa apa. Yang jelas, aku tidak sengaja, lalu kita terbiasa, bercanda, mencela, dan tertawa. Hampir setiap malam kita bersama, meski hanya dengan kata-kata, tapi rasanya melebihi saling memandang. Setiap malam kita mencela, tapi rasanya melebihi saling memuji.

Hingga hari itu, rasanya hampir melebihi rasa kenyang yang pernah ada, melebihi terpuaskannya dahaga. Selama sembilan bulan, bulan kesepuluh baru kamu panggil namaku, hei!!!!kemana saja?lalu mulai muncul rasa malu bila bertemu. Ingat waktu pertama makan malam, rasanya seperti sudah lama saja itu terjadi. Aku hanya diam, karena nggak terasa aku terbawa suasanamu. Aku diam, karena nggak terasa aku terhipnotis suasanamu. Tapi kamu hanya berdecak saja, tanpa memuji meski sebenarnya kamu mengagumiku. Malam itu kita bagai makhluk paling bodoh. Saling mengagumi, tapi saling mencela. Aneh, aku bisa melihat hatimu dengan sangat jelas, sangat kentara, sangat bening. Apa hari itu kamu pakai baju transpran? Yang bisa dilihat hingga ke dalam hati?

Lalu kita jarang lagi bertemu, hanya melihatmu menendang bola dari kejauhan. Kamu sedang dalam proses bertemu dengan masa depan, itu katamu. Aku terima, kamu baik, menemaniku dalam masa-masa paling sulitku. Sebenarnya aku ingin menanyakan satu hal? Mengapa kamu nggak pernah melepas hitam darimu? Tapi kamu pantas mengenakannya, terasa indah bila padamu. Seperti biasa, aku hanya mencela saja.

Akhirnya kita bisa bertemu, bertemu, dan bertemu sembilan kali berturut-turut. Sebelum aku merasa aneh, ada yang menarikku ketika kita berjalan bersama. Awalnya kamu nggak menyadari, karena aku hanya sebentar saja berbelok. Tapi ketika kita sudah tidak saling mencela, berarti kita sudah menyimpan pujian itu. Aku diam, kamu diam, tapi kita saling tahu. Jujur, aku belum bisa menepis wujudmu, mungkinkah kamu adalah reinkarnasi seseorang yang bahkan ingin aku lupakan beberapa ratus tahun lalu? Semoga bukan. Aku bahkan berusaha tetap hidup sampai saat itu untuk membuktikan padanya bahwa aku bisa menemukanmu, orang lain yang bukan reinkarnasi dirinya. Tapi kamu diam, dan diam sampai aku tidak mendengarmu, tidak merasakan suasanamu. Mungkinkah kamu sudah bereinkarnasi lagi? Aku? Bagaimana?

Tidak ada komentar: