Senin, 14 Juli 2008

AWALNYA....

Dua taon tiga bulan lalu, something happened on me! Sesuatu yang enggak pernah terpikir bakalan terjadi. On 2nd April 2006…aku enggak taw musti memaknai hari itu dengan apa??? Siapa aku sempat hilang mulai saat itu. Phewww, seakan ada yang menembakku dengan peluru bius paling dasyat…dan akhirnya aku gak sadar. Aku lemah,,, tapi belum mati. Semua berjalan dengan aku yang bukan sebenarnya…indah dan indah. Namun tidak sampai matahari tenggelam keesokan harinya bius itu hilang. Aku terbangun. Seorang perempuan yang meneteskan air mata itu membangunkan aku. Bukan karena air matanya yang asin, tapi karena hantaman rasa yang sangat dalam. Perempuan itu kehilangan bius, bangun dan sakit. Aku hanya bisa duduk, di depan pintu masuk, dengan perempuan lain yang baru sembuh dari penyakit aneh. Aku dan perempuan berbaju merah itu hanya terdiam, saling bicara dalam hati masing-masing. Kemudian saling memandang. Aku dan perempuan berbaju merah itu kemudian saling tersenyum.

Ternyata, perempuan berbaju merah itu juga terbangun karena perempuan yang sudah meneteskan air mata tadi. Namun senyumnya manis sekali, tidak seperti aku yang masih merasakan ngilu, entah dibagian mana tubuhku ini. Dia mengulurkan tangan, dan menjabatkannya pada telapak tanganku. Awalnya aku merasa hangat, namun lama-lama menjadi sangat panas.
Lalu aku pergi, pulang dengan kebahagiaanku. Dan sedikit rasa ngilu. Saat itu aku tidak sadar, kalau rasa ngilu itu esoknya akan semakin parah. Benar saja, malamnya kebahagiaanku datang. Dia membawa puisi yang ditulis oleh perempuan yang meneteskan air mata tadi. Puisi dendam. Entah. Aku tidak tahu maksudnya. Hanya ada gambar2 seperti gambar setan, senyum kecut dan makian yang disebutnya puisi. Perempuan itu menyimpan kebencian di setiap bagian tubuhnya, hingga marah sampaui biangnya marah, hingga caci maki yang paling tajam. . Sejenak saja aku lihat kebahagiaanku berganti rupa, pucat dan tidak dialiri udara Aku takut dia akan mati. Lalu dia pergi.

Esoknya aku bertemu dengan perempuan yang meneteskan air mata. Dia diam saja, aku lebih diam. Dia marah, aku lebih marah, dia menghujat, aku memaki lebih sangat. Kebahagiaanku diam saja, hanya melihat. Perempuan yang meneteskan air mata itu berjalan di depanku. Aku dan kebahagiaanku pergi mencari jalan lain, aku nggak mau berjalan di belakangnya. Akhirnya!!!!aku menemukan jalan sendiri, tapi belum sampai di perempatan, kebahagiaanku perganti rupa lagi. Kali ini dia berwarna ungu, bukan, agak kelabu. Rupanya perempuan yang meneteskan air mata itu terus mengawasi aku dan kebahagiaanku. Tapi dia tidak bicara, padaku atau kebahagiaanku. Dia terus memandangi kebahagiaanku, tapi dia tidak pernah bicara tentangnya ataupun berkeinginan dengannya. Tapi aku tahu, dari puisi yang dituliskan perempuan itu pada kebahagiaanku. Di terus menghujat dengan pandangan, menusuk dengan kata-kata. Aku diam.

Tiga bulan kemudian, perempuan yang meneteskan air mata itu bicara pada kebahagiaanku. Tanpa aku ketahui, dia meminta kebahagiaanku untuk ikut dengannya. Mungkin warnaku tidak cocok untuk kebahagiaanku, hingga kebahagiaanku mengundurkan diri dan pergi dengan perempuan yang meneteskan air mata itu. Mulai saat itu, kebahagiaanku hanya gelembung tanpa warna di mataku. Pendusta yang tidak setia. Cocoklah dia dengan perempuan yang meneteskan air mata itu. (25 June 2006, 19.30 WIB)

Tidak ada komentar: