Sabtu, 12 Juli 2008

Sakitku

Saat ini aku berjalan di dalam kegelapan, namun kuhanya manusia biasa. Titian hidupku berlapis gundah yang kurasa semua, takkan ada habisnya diriku menggila...(lirik by Bro)


Rasa sakit itu mungkin akan berubah menjadi rasa nikmat yang sangat, bukan karena aku melihatmu sekarat, tapi melihatmu tertambat dan berkata “aku selamat”. Semoga itu bukan khayalan atau dengungan yang mengganggu telinga, gatal yang menusuk hati atau resah yang meninggalkan repihan galau…

Detik adalah bagian dari waktu kita yang sudah memudar, namun getarnya masih, hingga membentuk waktu, menata masa. Jika masa itu sedah terkumpul, itulah yang dinamakan kenangan, masa lalu, masa silam, masa lampau. Yang dulu tangis, nantinya akan jadi tawa-tawa, lelucon, bagiku. Mungkin masa depanmu datang terlalu cepat, hingga kamu bisa tertawa dan membuat lelucon atas masa sekarangku.

Sebuah kata yang hanya menjadi makna kamus, tanpa perlu bersusah payah mencari artinya, harmoni. Kita tidak pernah menemukannya. Hingga saat itu, aku berjalan separuh perjalananmu, sendiri, sendiri, esoknya kita tertawa. Bercanda, bercinta, bercerita. Itu bukan harmoni, tapi kehampaan yang menyamarkan wajah, hingga tiba waktunya akan memperkenalkan diri dan menyapaku lebih awal.
Apa yang pernah berdarah akan tetap menjadi luka, meski telah kering, meski tak bergores, namun itu adalah luka, luka yang satu titik namun menjalar dengan derasnya darah, lajunya nafas. Tidak akan ada rajutan jemari, berbekas rentangan tangan dan perasaan ingin membuatku menangis, bersedih, terjatuh, terkulai, terpuruk, hingga mati.

Sakit itu hanya saudara rasa nikmat…hanya selemparan batu dari bahagia, pun sebaliknya. Akhirnya akan bertemu, dua rasa, dua manusia, tiga hati dan mati karena dunia hanya cukup untuk berdua. Dan binasa karena dunia tidak mengenal tanya.

Bersambung…

Tidak ada komentar: