Minggu, 04 Mei 2008

Penalaran dan Pemikiran


Berbicara tentang gagasan tidak lepas dari penalaran dan pemikiran. Penalaran dan pemikiran adalah sebuah proses yang terjadi di dalam otak, hasil dari proses tersebut bisa diketahui jika pemikir sudah mengeluarkan pikirannya dalam bentuk lisan maupun tulisan, seperti disebutkan oleh Mundiri (2006:9) sebagai berikut:

Kita tidak mungkin dapat memahami pikiran seseorang kalau tidak diwujudkan dalam bentuk ucapan, tulisan atau isyarat. Isyarat adalah perkataan yang dipadatkan, karena itu ia adalah perkataan juga. Jadi pikiran dan perkataan adalah identik...Kata-kata yang mewakili pikiran itu bukan sekadar coretan pena yang dituliskan atau suara gaduh yang diucapkan, tetapi merupakan susunan kata yang mewakili maksud tertentu yang lengkap.

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa tulisan seseorang merupakan cerminan pola berpikir seseorang. Seseorang tersebut berpikir runtut atau tidak dapat dilihat dari bagaimana dia menuangkan ide atau gagasannya melalui tulisan.
Jalan pikiran atau cara bernalar seseorang akan menentukan baik tidaknya kalimat yang digunakan orang tersebut. Karena kalimat yang diucapkan harus dipertanggung jawabkan, maka penalaran yang sehat sangat diperlukan dalam mengungkapkan ide.
Ide atau gagasan seseorang memang kadang tidak dapat diungkapkan dengan sempurna, orang lain yang bahkan mempunyai hubungan dekat dengan kita bahkan tidak dapat menebak dengan pasti apa yang sedang kita gagas atau kita pikirkan, hal ini seperti yang diungkapkan oleh Poespoprodjo (2006:49)

Berpikir dapat dirumuskan sebagaiberbicara dengan diri sendiri di dalam batin”. Bila orang berbicara dengan memakai kata-kata, maka orang berpikir dengan menggunakankonsepatau pengertian-pengertian. Berpikir itu berlangsung di dalam batin. Orang lain tidak dapat melihat apa yang sedang kita pikirkan. Akan tetapi, bila apa yang kita pikirkan itu hendak kita beritahukan kepada orang lain, maka isi pikiran itu harus dikatakan, dilahirkan dan diungkapkan. Untuk menyatakan isi pikiran itu, ada berbagai jalan, yaitu dengan tanda atau isyarat, atau dengan kata-kata. Bahasa, baik bahasa lisan maupun tulisan adalah alat untuk menyatakan isi pikiran.

Jadi dapat dikatakan bahwa ada hubungan timbal balik antara pikiran dan bahasa, baik itu bahasa lisan ataupun bahasa tulis. Berpikir dengan lurus dan tepat menuntut pemakaian kata-kata yang tepat. Namun antara apa yang ada di otak dengan yang tertulis terkadang terdapat ketidaksesuaian. Hal ini terjadi karena kurangnya kemampuan siswa dalam bernalar.
Menurut Poespoprodjo, dalam berlogika dimungkinkan terjadi apa yang disebut dengan kesalahan logis. Kesalahan logis yang dimaksud bukanlah kesalahan dalam fakta, tetapi merupakan bentuk kesimpulan yang dicapai atas dasar logika atau penalaran yang tidak sehat (2006:177). Kesalahan logis dapat terjadi pada siapapun juga, meskipun orang tersebut punya tingkat intelejen yang tinggi atau mempunyai pengetahuan dan informasi yang lengkap. Bahkan orang yang sudah paham tentang bagaimana bernalar tertib tidak tertutup kemungkinan juga mengalami kesalahan logis.
Proses bernalar atau singkatnya penalaran merupakan proses berpikir yang sistematik untuk memperolch kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Dari prosesnya, penalaran itu dapat dibedakan seba¬gai penalaran induktif dan deduktif. Penalaran ilmiah mencakup kedua proses penalaran itu.

1 komentar:

GARIS LAHIR mengatakan...

tentang bahasa..

kebetulan aku berbicara dengan ahli bahasa ya jadinya aku memilih bertanya soal bahasa.

1. menurutmu bahasa itu sebenarnya lahir dalam sebuah lingkaran kultur ato tidak?? saat bahasa inggris punya THE, negeri seberangnya punya DE,turun ke jerman punya DIE, di timur lagi punya DAS, di prancis punya LE, di italia punya LA, di spanyol punya LAS, dst.. bukankah bahasa yang serumpun punya banyak kesamaan dan terus memiliki benang merah mengikuti hawa geografis..arab-->india
-->melayu--> indocina--> asia timur. kalo kita teliti gaya tulisan dan bahasanya seolah menjadi sebuah proses mengikuti kondisi alamnya.. bukan begitu??

2.kondisi kedua tentang bahasa persatuan... menurutmu itu dibenarkan ato tidak. saat bahasa inggris menjajah bahasa cina. saat bahasa indonesia menjajah bahasa jawa. ato seharusnya memang ada bahasa pemersatu tapi bahasa sekundernya harus tetap memiliki harga yang sama. aku masih marah saat bahasa inggris menjadi dewa... yang lucunya oleh kita sang budak beliannya. apa benar bahasa sudah diperjual belikan, menjadi alat perang dalam dunia penuh darah. bukankah sebenarnya ia hanya punya tugas sederhana: membuat orang lain mengerti apa yang ada dalam otak kita...

aku belum mendengar ada pahlawan bahasa. tapi seharusnya ada pejuang2 yang membelanya dalam bingkai persamaan bahasa seperti layaknya manusia