Minggu, 04 Mei 2008

PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF

PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF=BERPIKIR DI DEPAN ATAU DI AKHIR

Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut induksi.

Penalaran induktif mungkin merupakan generalisasi, analogi, atau hubung­an sebab akibat. Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Di dalam analogi kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala ditarik berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah gejala khusus yang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antara ge­jala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat-sebab, dan akibat-akibat.
....Suatu lembaga kanker di Amerika melakukan studi tentang hubungan antara kebiasaan merokok dengan kematian. Antara tanggal 1 Januari dan 31 Mei 1952 terdaftar 187.783 laki-laki yang berumur antara 50 sampai 69 tahun. Kepada mereka dikemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang kebiasaan merokok mereka pada masa lalu dan masa sekarang. Selanjutnya keadaan mereka diikuti terus-menerus selama 44 bulan. Berdasarkan surat kematian dan keterangan medis tentang penyebab kematiannya, diperoleh data bahwa di antara 11.870 kematian yang dilaporkan 2.249 disebabkan kanker.Dari seluruh jumlah kematian yang terjadi (baik pada yang merokok maupun yang tidak) ternyata angka kematian di kalangan pengisap rokok tetap jauh lebih tinggi daripada yang tidak pernah merokok, sedangkan jumlah kematian pengisap pipa dan cerutu tidak banyak berbeda dengan jumlah kernatian yang tidak pernah merokok.Selanjutnya, dari data yang terkumpul itu terlihat adanya korelasi positif antara angka kematian dan jumlah rokok yang diisap setiap hari ... Dari bukti-bukti yang terkumpul dapatlah dikemukakan bahwa asap tembakau memberikan pengaruh yang buruk dan memperpendek umur manusia. Cara yang paling sederhana untuk menghindari kemungkinan itu ialah dengan tidak merokok sama sekali.

Tulisan di atas memaparkan hubungan sebab akibat antara merokok dan ke­matian. Dari paparan itu dapat dilihat bagaimana proses bernalar itu terjadi. Mu­la-mula mereka mengurnpulkan data dari sejumlah orang laki-laki. Mereka itu dikelompokkan menurut kebiasaan merokoknya, mulai dari yang tidak pernah merokok sampai pada perokok berat. Selanjutnya perokok itu juga dibedakan antara yang menghisap rokok putih (sigaret) dan yang menghisap cerutu dan pipa. Dalam waktu yang cukup panjang mereka diarnati. Kematian dan pe­nyebabnya dicatat dan dianalisis. Dari bukti-bukti yang terkumpul ditariklah kesimpulan-kesimpulan sehubungan dengan rnasalahnya.Secara ringkas paparan di atas menggambarkan proses penalaran induktif. Proses itu dilakukan langkah demi langkah sehingga sampai pada kesimpulan.

Penalaran Deduksi dimulai dengan suatu premis yaitu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Kesimpulannya merupakan implikasi pernyataan dasar itu. Artinya apa yang dikemukakan di dalam kesimpulan secara tersirat telah ada di dalam pernyataan itu.
Jadi sebenarnya proses deduksi tidak menghasilkan suatu pengetahuan yang baru, melainkan pernvataan kesimpulan yang konsis­ten dengan pernyataan dasarnya. Sebagai contoh. kesimpulan-kesimpulan berikut sebenarnya adalah implikasi permintaan “Bujur sangkar adalah segi empat yang sama sisi”.(1) Suatu segi empat yang sisi-sisi horisontalnya tidak sama panjang dengan sisi tegak lurusnya bukan bujur sangkar.(2) Semua bujur sangkar harus merupakan segi empat, tetapi tidak semua segi empat merupakan bujur sangkar.(3) Jumlah sudut dalam bujur sangkar ialah 360 derajat.(4) Jika sebuah bujur sangkar dibagi dua dengan garis diagonal akan terjadi dua segi tiga sama kaki.(5) Segi tiga yang terbentuk itu merupakan segi tiga siku-siku.(6) Setiap segi tiga itu mempunyai dua sudut lancip yang besarnya 45 derajat. (7) Jumlah sudut dalam segi tiga itu 180 derajat.Setiap pernyataan yang tercantum itu merupakan cara lain untuk meng­ungkapkan pernyataan di atasnya secara konsisten. Pernyataan (2) merupakan implikasi pernyataan (1), pernyataan (3) merupakan implikasi pernyataan (2), dan seterusnya. Di sinilah letak perbedaannya dengan penalaran induktif. Da­lam penalaran induktif kesimpulan bukan merupakan implikasi data yang di­amati; artinya, kesimpulan mengenai fakta-fakta yang diamati tidak tersirat di dalam fakta itu sendiri.

Dalam praktek, proses penulisan tidak dapat dipisahkan dari proses pemi­kiran/penalaran. Tulisan adalah perwujudan hasil pemikiran/penalaran. Tulisan yang kacau mencerminkan pemikiran yang kacau. Karena itu, latihan ke­terampilan menulis pada hakikatnva adalah pembiasaan berpikir/bernalar se­cara tertib dalarn bahasa yang tertib pula.
Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa suatu tulisan sebagai basil proses bernalar mungkin merupakan hasil proses deduksi, induksi, atau gabungan keduanya. Dengan demikian suatu paparan dapat bersifat deduktif, induktif, atau gabungan antara kedua sifat tersebut. Suatu tulisan yang bersi­fat deduktif dibuka dengan suatu pernyataan/umum berupa kaidah, peratur­an, teori, atau pernyataan umum lainnya. Selanjutnya, pernyataan itu akan dikembangkan dengan pernyataan-pernyataan atau rincian-rincian yang ber­sifat khusus. Sebaliknya, suatu tulisan yang bersifat induktif dimulai dengan rincian-rincian dan diakhiri dengan suatu kesimpulan umum atau generalisasi. Gabungan antara keduanya dimulai dengan pernyataan umum yang diikuti de­ngan rincian-rincian dan akhirnya ditutup dengan pengulangan pernyataan umum di atas.

Dalam praktek proses deduktif dan induktif itu diwujudkan dalam satuan-­satuan tulisan yang merupakan paragraf. Di dalam paragraf suatu pernyataan umum membentuk kalimat utama yang mengandung gagasan utama yang dikernbangkan dalarn paragraf itu. Dengan demikian ada paragraf deduktif de­ngan kalimat utama pada awal paragraf, paragraf induktif dengan kalimat uta­ma pada akhir paragraf, dan ada pula paragraf dengan kalimat utama pada awal dan akhirnya.

Proses deduktif dan induktif itu juga diterapkan dalam mengembangkan seluruh karangan. Paragraf-paragrat deduktif dan induktif mungkin diperguna­kan secara bergantian, bergantung kepada gaya yang dipilih penulis sesuai de­ngan efek dan tekanan yang ingin diberikannya.
Karya ilmiah merupakan sintesis antara proses deduktif dan induktif, Kedua proses itu terlihat secara jelas.Uraian di atas mengenai arah atau alur penalarandan bagaimana per­wujudannya di dalam tulisan atau karangan. Pada bagian berikut akan dibahas wujud penalaran dihubungkan dengan urutan pengembangan dan isi karangan. Dalam hal ini, karena paragraf pada hakikatnya merupakan suatu karangan mini maka contoh-contoh yang diberikan sebagian besar berupa paragraf.

GAGASAN LOGIS, KALIMAT PUN EFEKTIF

Pengorganisasian memiliki kata dasar organisasi yang berarti kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian (KBBI,2001:803). Gagasan sendiri berarti hasil pemikiran atau ide (KBBI, 2001:326). Gagasan yang ada dalam otak diolah sehingga menjadi kesatuan kalimat yang runtut atau disebut mengalami proses pengorganisasian. Tulisan-tulisan yang jelas dan terarah merupakan perwujudan daripada berpikir logis.
Keraf mengatakan bahwa setiap kalimat yang baik harus jelas memperlihatkan kesatuan gagasan, mengandung satu ide pokok (1973:36). Tidak diperbolehkan menggabungkan dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan sama sekali. Jika dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan sama sekali digabungkan menjadi satu maka kalimat yang terbentuk tentu menjadi rancu bahkan tidak mempunyai arti.
Penalaran dan Pemikiran


Berbicara tentang gagasan tidak lepas dari penalaran dan pemikiran. Penalaran dan pemikiran adalah sebuah proses yang terjadi di dalam otak, hasil dari proses tersebut bisa diketahui jika pemikir sudah mengeluarkan pikirannya dalam bentuk lisan maupun tulisan, seperti disebutkan oleh Mundiri (2006:9) sebagai berikut:

Kita tidak mungkin dapat memahami pikiran seseorang kalau tidak diwujudkan dalam bentuk ucapan, tulisan atau isyarat. Isyarat adalah perkataan yang dipadatkan, karena itu ia adalah perkataan juga. Jadi pikiran dan perkataan adalah identik...Kata-kata yang mewakili pikiran itu bukan sekadar coretan pena yang dituliskan atau suara gaduh yang diucapkan, tetapi merupakan susunan kata yang mewakili maksud tertentu yang lengkap.

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa tulisan seseorang merupakan cerminan pola berpikir seseorang. Seseorang tersebut berpikir runtut atau tidak dapat dilihat dari bagaimana dia menuangkan ide atau gagasannya melalui tulisan.
Jalan pikiran atau cara bernalar seseorang akan menentukan baik tidaknya kalimat yang digunakan orang tersebut. Karena kalimat yang diucapkan harus dipertanggung jawabkan, maka penalaran yang sehat sangat diperlukan dalam mengungkapkan ide.
Ide atau gagasan seseorang memang kadang tidak dapat diungkapkan dengan sempurna, orang lain yang bahkan mempunyai hubungan dekat dengan kita bahkan tidak dapat menebak dengan pasti apa yang sedang kita gagas atau kita pikirkan, hal ini seperti yang diungkapkan oleh Poespoprodjo (2006:49)

Berpikir dapat dirumuskan sebagaiberbicara dengan diri sendiri di dalam batin”. Bila orang berbicara dengan memakai kata-kata, maka orang berpikir dengan menggunakankonsepatau pengertian-pengertian. Berpikir itu berlangsung di dalam batin. Orang lain tidak dapat melihat apa yang sedang kita pikirkan. Akan tetapi, bila apa yang kita pikirkan itu hendak kita beritahukan kepada orang lain, maka isi pikiran itu harus dikatakan, dilahirkan dan diungkapkan. Untuk menyatakan isi pikiran itu, ada berbagai jalan, yaitu dengan tanda atau isyarat, atau dengan kata-kata. Bahasa, baik bahasa lisan maupun tulisan adalah alat untuk menyatakan isi pikiran.

Jadi dapat dikatakan bahwa ada hubungan timbal balik antara pikiran dan bahasa, baik itu bahasa lisan ataupun bahasa tulis. Berpikir dengan lurus dan tepat menuntut pemakaian kata-kata yang tepat. Namun antara apa yang ada di otak dengan yang tertulis terkadang terdapat ketidaksesuaian. Hal ini terjadi karena kurangnya kemampuan siswa dalam bernalar.
Menurut Poespoprodjo, dalam berlogika dimungkinkan terjadi apa yang disebut dengan kesalahan logis. Kesalahan logis yang dimaksud bukanlah kesalahan dalam fakta, tetapi merupakan bentuk kesimpulan yang dicapai atas dasar logika atau penalaran yang tidak sehat (2006:177). Kesalahan logis dapat terjadi pada siapapun juga, meskipun orang tersebut punya tingkat intelejen yang tinggi atau mempunyai pengetahuan dan informasi yang lengkap. Bahkan orang yang sudah paham tentang bagaimana bernalar tertib tidak tertutup kemungkinan juga mengalami kesalahan logis.
Proses bernalar atau singkatnya penalaran merupakan proses berpikir yang sistematik untuk memperolch kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Dari prosesnya, penalaran itu dapat dibedakan seba¬gai penalaran induktif dan deduktif. Penalaran ilmiah mencakup kedua proses penalaran itu.